Aku merasa belum puas (dan belum tuntas) nyari ilmu di bangku pendidikan. Maka bangku kehidupan ku pilih sebagai jalan untuk meraih puing-puing keilmuan. Yap, salah satunya silaturahim ke bapak Iwan, pengusaha ayam petelur dari Kediri Selatan, kawanku KKN 4 tahun yang lalu.
Selepas rapat bersama teman-teman MPJ, aku mampir ke rumahnya silaturahmi, setelah sekian purnama tidak jumpa. Aku tidak tau sahabat mana yang menjerat dan sahabat mana yang bermanfaat, setidaknya semakin banyak menjalin silaturahmi, semakin besar potensi untuk meraih rezeki.
Aku belajar banyak, bagaimana pak Iwan mengalami pasang surut usaha telurnya, dilanda covid, konsumen menurun, terjangan virus, hingga perihal pakan. Peternakan memang bukan bassicku, setidaknya bisa menambah catalog ilmu dan kita ndak tau ilmu mana yang berguna.
Kemudian pak Iwan cerita banyak, bagaimana merangkai maghligai rumah tangga. Diantaranya dari sekian cerita itu, pak Iwan memberi pesan. Ketika nikah itu baiknya ketika proses mapan baru menikah, jika menunggu mapan itu baik, namun, masih menurut pak Iwan sulit bagi joko untuk mapan, "Iseh joko kok mapan iku uuuangel mas, biasane mapane pas wes bar nikah, makane ketika proses mapan iku pas nggo nikah, ben seng wedok melu ngrasakne rekasane bagaimana berkeringat bersama." Katanya dengan logat medhuokk Tulungagung.
Lalu untuk kunci sakinah, pak Iwan memberi rahasia 'kamarnya', "Pertama sholat berjama'ah, kedua nek makan sak nampan, Insya Allah akan langgeng." Terangnya.
Setelah itu, pak Iwan yang pernah mondok 3 tahun ini berbalik tanya banyak hal kepada saya mengenai pesantren. Bapak dua anak ini mendukung dan turut 'bangga' dengan langkah saya yang memasuki jenjang S2, "Mumpung masih enom, dipol-polke leh kuliah, nikahe mengko wae iso kapan-kapan." Tandasnya.
Lalu gimana dengan teman KKN kalian? masih saling berkabar? atau sudah bubar?
Sekian, wallahu a'lam.