Pernah terbayang, ada santri di era orde baru ketika Kiai banyak di persekusi, tapi santri ini malah ngefans dengan Ali Murtopo seorang Jendral ABRI?
Santri yang menolak tawaran ayahanda mondok di Gontor, tapi malah milih mengenyam pendidikan di SMA Umum.
Lalu diam-diam tanpa sepengetahuan keluarga, berangkat dari keluarga NU kentel tiba-tiba daftar jadi Intel? Yaps santri itu adalah Yai As'ad Said Ali. Salah satu santri langka di era sekarang karena kiprahnya terjun langsung menjadi 'Anbu' di negara Konoha ini.
Santri kelahiran Kudus ini, selepas lulus SMA, nyantri di Krapyak dan kuliah di UGM, setelah itu ke Ibukota di terima sebagai Intelijen.
Yaps, ayahnya yang merupakan pesantren tulen, alumni Pondok Tremas kaget anaknya masuk di Intel. Ditengah diskusi yang intens, ayahnya kemudian setuju Yai As'ad muda jadi Intel, respon ayahnya mengetahui cara kerja Intel adalah, "Lho kok seperti ilmu hadits, selain materi haditsnya (matan) juga ada perawi (penyampai info) dan sanadnya (rangkaian sumber info) Jadi bidang kerja kamu itu mulia". Penjelasan ayahnya ini bikin Yai As'ad lega.
Negara pertamanya tempat beliau bertugas adalah Saudi Arabia, di sana beliau mengumpulkan informasi perihal Sahwa al Islamiyyah dan juga eksistensi Ikhwanul Muslimin. Termasuk memantau mahasiswa Indonesia di Universitas Islam Madinah yang ternyata membawa ideologi gerakan Ikhwanul Muslimin ke Indonesia pada 1985.
Tugas beliau memang kebanyakan di Timur-Tengah, sangat dekat dan memahami PFLO, Petinggi Partai Baath Syiria, berada di circle Hizbullah dan Hamas. Beliau memproduksi Informasi A1 (Sohih), A2 (Hasan) sampai memahami gejolak pasca Pereoterika dan Glashnost-nya Gorbachev.
Istilahnya, ketika diaspora lain menebar eksistensi biar viral, dan masyhur di media masa. Beliau menutup diri, menyepi, memastikan teroris dan rudal musuh tidak meluncur ke Indonesia.
Salah satu tugas unik beliau adalah ketika mengirim dua santri ke Yaman. Yaps bukan untuk nyantri ke Habib Umar Al-Hafidz, seperti kebanyakan santri sekarang. Tapi mengendus keberadaan inkubasi teroris di sana, sekaligus menyelediki keberadaan 500 mahasiswa Indonesia eks relawan Ambon yang belajar di Darul Hadits, Damaj, Yaman Utara.
Selain di Timur-Tengah, Yai As'ad Said Ali bertugas di penjuru dunia, Asia hingga Afrika. Temuan menarik yang perlu kita tahu, Cina ternyata mengajak Komunitas Yahudi Internasional melakukan bisnis di RRC. Salah satunya mengembangkan industri susu sapi, Cina mengambil teknologi Israel, satu susu sapi bisa menghasilkan 40 liter per hari, melampaui rata-rata 8-13 liter. Hubungan Cina dengan Yahudi itu bisa dekat karena di Cina ada komunitas Yahudi besar, disebut Yahudi Kaifeng.
Kenapa Salafi-Wahabi harus berterimakasih kepada beliau?
Namanya Ja'far Umar Thalib (JUT), Ketua Laskar Jihad yang pernah konflik komunal di Ambon. Seandainya CIA meminta kepada BIN (Badan Intelijen Negara) untuk memasukkan JUT ke daftar teroris. Namun BIN ditengah diplomasi, Yai As'ad Said Ali atas nama BIN memberikan klarifikasi, bahwa JUT tidak berkaitan dengan Al-Qaeda dan berbeda. Letak bedanya Al-Qaeda berideologi Salafi-Jihadi sedangkan JUT Salafi-Wahabi.
Apabila mau, sangat mudah JUT yang Wahabi nyel itu dicap teroris dan jadikan buruan CIA. Namun Yai As'ad Said Ali NU kentel, tetap berpandangan objektif dan tidak menganggap Salafi-Wahabi sebagai ancaman kedaulatan. Meskipun ditingkat Amaliyah Ubudiyah, Salafi-Wahabi ini berisiknya minta ampun dan hobi menyalahkan orang NU. Pada akhirnya JUT wafat dengan normal sebagai warga biasa, bukan sebagai teroris.
Selain itu, Yai As'ad Said Ali juga terlibat menyelamatkan madrasah di Pakistan, ketika madrasah di Pakistan dituduh CIA sebagai asal mula teroris, M16 (Intel Inggris) dan ISI (Intel Pakistan) meminta bantuan BIN untuk menyakinkan CIA.
Lalu BIN memberi pandangan bahwa madrasah di Pakistan sama persis di Indonesia, hanya beda Madzhab. Namun beberapa madrasah yang berideologi Wahabi, sering dimanfaatkan Salafi-Jihadi mendoktrin siswanya untuk jihad. Secara tidak langsung doktrin Salafi lepas kendali dari tujuan madrasah semula. Lagi-lagi beliau menyelamatkan muka Wahabi dihadapan Internasional.
Peak performance Yai As'ad Said Ali ketika menjadi Wakil Kepala BIN selama 9 tahun. Era Presiden Abdurahman Wahid, Presiden Megawati, dan Presiden SBY (2001-2010). Setelah itu menjadi Wakil Ketua PBNU mendampingi K.H. Said Aqil Siradj (2010-2015). Sekarang beliau membindangi kaderisasi Nahdliyyin.
Yai As'ad Said Ali juga seorang penulis, informasi yang kita baca ini bersumber dari buku beliau berjudul 'Perjalanan Intelijen Santri'.
Melihat jalan hidup Yai As'ad Said Ali, bukan hal yang mustahil bagi santri untuk berkarir di luar bidang pesantren, dan tentu ketika sudah di luar pesantren, tidak serta-merta melepaskan jiwa kesantriaannya. Demi agama, bangsa, negara dan menjaga martabat kemanusiaan.
Sekian, wallahu a'lam bishawab.