Pondok pesantren menjadi panggung pertemuan santri multi latar belakang, beragam status sosial, dan perbedaan penghasilan orang tua, berinteraksi dalam satu asrama, tujuannya tetap sama, yaitu mencari ilmu.
Diversitas latar belakang santri ini memang berdampak positif, tentu juga ada sisi negatifnya. Yaps di tulisan ini saya ingin mengulas sisi negatifnya, ialah salah pergaulan santri di pesantren salah satu bahaya yang jarang disadari.
Salah pergaulan di sini yang saya maksud bukan salah pergaulan seperti di sekolah umum yang terkesan nakal, ugal-ugalan, atau pelanggaran syariat, bukan.
Melainkan salah circle yang bisa membikin santri terlena, lupa jati diri, istilahnya ghurur bahkan istidroj. Konsepnya begini, dalam sisi ekonomi misal, ada santri biasa, lingkungan pergaulannya adalah anak juragan. Kemudian dia mengikuti gaya hidup ala anak juragan tadi yang biasanya boros, jelas santri biasa tadi bisa boncos, orang tuanya ngos-ngosan mengirim uang jajan.
Bisa juga di sisi akademis, katakanlah santri biasa, circlenya Gus, pesantren ataupun lembaga tempatnya mondok sering mengadakan seminar, pelatihan, simposium maupun workshop. Santri biasa ini sebenarnya butuh untuk ikut dan dia menginginkannya, ndilalah temennya yang Gus tadi tidak tertarik dengan hal seminar dan semacamnya itu. Ironisnya si santri biasa malah gajadi ikut dan tidak peduli dengan pendidikan ekstra itu. Karena temennya yang Gus tadi tidak ikut, dia ikut-ikutan tidak ikut, disitulah celakanya.
Maksudnya, meskipun temen si Gus tadi tidak ikut seminar dll. si santri lupa tanpa mengikuti pelatihan itu si Gus di rumah sudah ada garansi menjadi pimpinan lembaga, kepala sekolah milik keluarganya, tentu pengasuh pesantren. Sedangkan si santri biasa? Yaps dia tentu membutuhkan beragam pendidikan tambahan untuk menambah ilmu, wawasan juga berguna buat portofolio akademiknya.
Kemudian dari sisi pengalaman kerja dan koneksi misal, si santri biasa bersahabat rekat dengan anak pejabat, dia melewatkan berbagai peluang magang, pelatihan kerja dan keorganisasian, karena terpengaruh anak pejabat yang ndilalah malas berkoneksi karena merasa sudah nyaman.
Si santri lupa bahwa anak pejabat tadi gausah ikutan pelatihan 'tethek bengek' apalagi berorganisasi di rumah sudah terjamin kursi atau kedudukan oleh ayah, kakak maupun pamannya. Sedangkan santri di rumah? Yaaaa begitulah, mungkin harus jadi 'korea-korea' dulu untuk naik tahta.
Artinya, selain mendapat ilmu, di pesantren memang kita bisa menambah sudut pandang baru dan relasi yang luas. Namun jangan sampai kita terlena, sehingga lupa diri, tentu pergaulan yang mencabut jati diri perlu di hindari, kan. Ini sesuai dengan titah di nadzom Alala,
فَاِنْ كَانَ ذَا شَرٍّ فَجَنِّبْـهُ سُــرْعَةً # فَاِنْ كَانَ ذَاخَيْرٍ فَقَارِنْهُ تَهْتَـدِيْ
"Bila circlenya buruk maka jauhi secepatnya, dan bila baik temanilah dia, maka kamu akan mendapatkan petunjuk."
Barangkali circle pergaulan kita baik di satu sisi, tapi ternyata disisi akademi buruk. Maka jangan sungkan-sungkan untuk kita mengembangkan sisi akademik, atau metereng di hal akademik ternyata ngajinya defisit. Maka saat urusan ngaji tadi kita juga perlu egois untuk mengembangkan diri, bukan ikutan buruk ngajinya. Musti cermat mana yang perlu di ikuti, mana yang harus di lepas.
Artinya, pergaulan pesantren tidak melulu soal siapa dia dan bagaimana latar belakangnya. Namun yang penting adalah teman yang memiliki growth mindset, selalu mengajak bertumbuh, dan mensuport potensi yang ada pada diri kita.
Menganalisa lingkungan pergaulan ini penting. Bagaimana pun Nabi Muhammad Saw, sudah mewanti-wanti bahwa,
الْمَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ
"Seseorang itu bergantung pada agama/perilaku temannya."
Menanyakan pada diri sendiri apakah tetap bisa memegang kendali diri dan jati diri tanpa disetir oleh circle sekitar.
Jangan sampai kemudian derajat ekonomi masih 'supra bapak', tapi maksa ikut circle 'vespa matic', ya rugi bandar bos. Potensi IQ otak kita 150 malah downgrade ikut gaya hidup circle IQ rendah, ya sia-sia. Jangan sampai kita punya bakat literasi tapi malah join pertemanan ghibah san-sini.
Intinya pergaulan di pesantren yang membuat kita jauh dari niat berangkat mondok, pergaulan itu segera jauhi, atau tetap mau bertahan di salah circle pergaulan dengan dalih 'Barokah Yai?'
Sekian, wallohu'alam.