Loading...

Pentingnya Orang Tua Ngimbangin Kesalehan Santri

Oleh Ahmad Elnahrowi | Umum | 18 Apr 2026

Cover Artikel

Memondokkan buah hati ke pesantren di era penuh fitnah ini merupakan suatu kebaikan dan prestasi tersendiri. Upaya melestarikan ajaran Nabi Muhammad Saw untuk mengajarkan anaknya ilmu agama, tentu juga menjamin ada anggota keluarga yang tiap hari bersujud kepada-Nya. Dalam tulisan ini ada sedikit catatan yang afdhol bagi wali santri, yaitu mengimbangi kesalehan santri.

 

Berlaku hukum tidak tertulis bahwa ketika anak mondok, yang dituntut untuk menambah saleh tidak hanya anaknya, orang tua juga perlu 'dibebani' untuk ikhtiar tambah saleh. Case di Desa saya berlaku hukum 'titen' bahwa barometer kesuksesan mondok tidak hanya sang santri, tapi juga orang tuanya.

 

Misal anaknya mondok, kok wali santrinya ndak ada perubahan ke salehan, maka akan jadi perhatian warga dan bisa dikatakan belum sukses, meskipun anaknya alim dan saleh. 

Setidaknya ketika anak mondok, ada perubahan positif pada diri orang tua. Lebih saleh, lebih rajin jama'ah, sebelumnya pasif jadi lebih aktif di organisasi, umpama sebelumnya tidak berjilbab jadi berjilbab, yang pelit jadi dermawan dll. Karena tadi sadar 'oh anak saya mondok' jadi orang tuanya turut memantaskan diri dan ngimbangi kesalehan sang santri. Karena terasa janggal bila anak jadi teladan, akan tetapi orang tua tak lebih dulu memberi contoh dan panutan.

 

Orang tua yang mengimbangi kesalehan santri memang tidak menjadi sebuah kewajiban, tapi sekadar nilai moral, bahwa yang mengambah jalan spiritual tidak anaknya saja, orang tuanya juga perlu ikhtiar. Meskipun memang beberapa masih sama saja.

 

Sang anak di ondok mikul duwur mendem jeru, orang tua di rumah menjaga marwah dan rasa malu. Siapa tahu Allah SWT memberi futuh ilmu kepada santri sebab kesalehan dan ketulusan orang tua. Jadi tugas mendidik secara langsung memang berpindah kepada Kiai atau Ustadz, sang orang tua setidaknya juga turut mendidik melalui jalur rohani dan kehidupan sehari-hari.

 

K.H Mahrus Ali pernah menghimbau perihal ini, bahwa "Kalau putra-putrinya di pondok, hati orang tuanya juga harus ikut mondok, terutama hati sang ibu. Seringlah baca al-Fatihah setiap ba'da Maghrib sebanyak 41 kali, karena do'a ibu yang bisa melembutkan hati anaknya." K.H Mahrus 'Aly Lirboyo

K.H Anwar Mansur juga memberikan pesan, "Syaratnya orang ngaji itu tiga, satu gurunya sungguh-sungguh, kedua orang tuanya membekali dan mendoakan dengan sungguh-sungguh, ketiga anaknya giat belajar. Jika salah satu dari tiga ini bergeser, maka tidak akan berhasil."

 

Allah SWT. telah memerintahkan dengan tegas yang menjadi benteng penjaga spiritual santri adalah orang tua itu sendiri,

قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا

"Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka."

 

Nah teman-teman alumni yang memiliki power, wali santri yang ndilalah anaknya mondok tapi orang tuanya belum ngimbangin, bisa dinasehatin bil hikmah dan khasanah. Bahkan kalau itu orang tua kalian sendiri sekalipun, bisa dibicarakan dengan cara yang pelan nan bijak.

 

Sekian, Wallohu'alam.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp Facebook Twitter

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.