Saya amat tergelitik dengan judul berita sindonews.com tertulis, “Kasus Bullying Marak, Jokowi Minta Guru Jadi Ujung Tombak Ciptakan Sekolah Aman” yang dimuat kemarin. Pertanyaan itu memang benar, namun disisi lain mengingatkanku pada era Jokowi yang malah membuat guru ‘tidak aman’, secara finansial, malah terkesan melarat.
Bisa dilihat dari data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kelompok masyarakat yang paling banyak terjerat pinjanman online adalah guru, sebesar 42%, betapa mirisnya itu. Maka banyak yang merindukan era SBY guru begitu diayomi dan disejahterakan, setidaknya lebih baik daripada era Jokowi. Maka yang tepat artikel berita itu dibalik, “Guru Minta Jokowi Jadi Ujung Tombak Ciptakan Guru Aman Finansial”.
Bangsa ini memang unik, cita-citanya menjadi bangsa bermartabat, tapi banyak guru yang masih dibuat melarat, sedangkan pemerintah dominan fokus ke konglomerat. Asing lagi. Tak ayal, banyak pemuda menuju dewasa, memandang guru itu profesi mengerikan, setidaknya dari sisi finansial.
Coba bandingkan, guru dengan profesi lain macam komedian, LC, biduan, artis dll. Pendapatanya masih banyak mana? Secara sederhana, negara ini nampaknya lebih menghargai perusak akal daripada pendidik akal. Bila martabat sebuah negara itu dinilai dari cara menghormati ilmu, maka Indonesia benar-benar jauh dari kata bermartabat.
Mari kita tengok Jepang, selepas Jepang luluh lantah diberangus dengan nuklir oleh Amerika, apa yang dilakukan? Ya, semua guru dikumpulkan, mental guru dibangun ulang. Bangsa Jepang percaya, kabangkitan akan diraih apabila mental guru pulih, hasilnya bisa kita lihat sekarang.
Begitu pula zaman keislaman, dibalik puncak ke-emasan Islam itu berada di zaman Abbasiyah. Rahasia dibaliknya tentu, menghargai guru dengan gaji yang teramat tinggi. Saat ini juga bisa dianalisis, nyaris seluruh negara maju, sangat menaruh penghargaan tinggi kepada guru, tidak hanya dengan kata ‘terimakasih’ dan status sosial belaka, melainkan bukti dengan materi.
Bangsa-bangsa besar di atas bisa maju dengan memuliakan guru, bukan malah menunggu maju baru kemudian memulai memuliakan guru. Bangsa di atas itu seolah tahu dalil,
مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
Bahwa untuk mengapai dan menguasai dunia maka dengan ilmu. Sedangkan negara kita saat ini priortasnya adalah ekonomi, padahal tau sendiri dunia semakin dikejar semakin jauh. Dunia tidak didapat, nasib guru rungkat.
Andaikata pendapatan negara dianggap sebagai alasan gaji guru kecil, tentu tidak bisa, buktinya banyak sektor yang pentingya tidak melebihi pendidikan tapi menyedot anggaran begitu besar. Apabila guru dan pendidikan diprioritaskan oleh negara ini, maka ilmu akan dihargai, semakin ilmu dihargai, selain negara semakin maju, etika akan turut dijunjung tinggi, bila etika dijunjung tinggi maka pejabat-pejabat yang korupsi bisa dikurangi. Disisi lain bila kualitas ilmu maju, maka tak perlu lagi tenaga ahli untuk mengelola kekayaan negeri ini mengambil dari asing.
Semoga saja pemerintahan yang baru ini membawa kesejahteraan pada ilmu, guru dan lingkupnya. Bukan negara saja, melainkan kepada setiap warga, bahwa untuk tidak perhitungan dengan ilmu. Benar-benar totalitas, seperti yang dilakukan ulama-ulama terdahulu.
Sekian, wallahu a'lam bishawab.