Loading...

Mengatasi Santri Yang Cenderung Kurang Menghormati Guru Formal

Oleh Ahmad Elnahrowi | Umum | 24 Jan 2026

Cover Artikel

Saya bertahun-tahun berkecimpung di dunia siswa dan santri, paginya mengenyam bangku sekolah malamnya diniyyah. Jadwalnya sangat padat, kehidupan sehari-hari tidak lepas dari membaca, nulis, mengafal, ibadah, dan ngopi begitu terus.

 

Bila ada pepatah berbunyi teman terbaik adalah buku, ya bisa ditemui di lingkungan pesantren type majma'al bahroin (terdapat ilmu formal dan salafnya) seperti ini. 

 

Bagaimanapun, sebuah sistem tentu tak lepas dari problem, begitupula type pesantren seperti ini, kerap saya menemukan fakta terjadi sebuah disparasi atau perbedaan cara santri ini dalam menghormati gurunya. Malam ketika bersama guru ngaji, ta'dzimnya luar biasa, boro-boro melawan, saling tatap mata saja tidak berani, sang santri, pandangannya ndingkluk, badanya membungkuk, benar-benar hormat. Tidur di kelas pun tidak berani, benar-benar sam'an wathoatan, mendengar dan melaksanakan apapun yang diucapkan guru ngaji.

 

Namun anehnya, hal demikian itu tidak berlaku ketika berinteraksi dengan guru sekolah formal, cara menghormatinya tidak se-mbungkuk ketika bertemu guru ngaji, kadang malah berani melawan dan cenderung menyepelekan. Tidur di kelas, kalau gurunya ndak tegas ya mana mungkin bangun santri-santri ini. Sebuah fenoma aneh tapi menjadi kebiasaan.

 

Suatu ketika pernah saya diskusi sama para penuntut ilmu ini, saya memberi pemahaman logis kepada mereka.

"Coba kalian lihat, alumni ketika kembali kesini, rata-rata mereka datang ke kantor sekolah apa kantor madrasah dahulu?".

"Kantor sekolah pak." Jawab mereka.

"Mendatangi guru formal apa mendatangi guru ngaji?"

"Guru formal pak."

"Mengapa mereka datang ke sekolah, mengapa ndak mendatangi guru ngaji yang selama di pondok yang paling di hormati?"

Semua bungkam, hening. 

"Ya karena ambil ijazah pak." 

"Nah kan, kalian sadar sendiri kan, guru sekolah itu sekarang cenderung kalian remehkan, kurang respect, tapi nanti ketika lulus, wah guru formal langsung dicari pertama kali, itu namanya ndak sumbut, ndak tau diri, dan lebih mendekati perilaku dzolim linafsihi."

Kemudian saya menimpali lagi, "Kalian menghormati guru ngaji karena apa?" 

"Karena ilmu pak."

"Lantas mengapa hal demikian, tidak berlaku ke guru sekolah? Apa guru sekolah tidak memberi ilmu?" Mereka tetap bungkam, kala itu.

 

Paradoks seperti inilah yang kerap dijumpai di pesantren yang ada sekolah formalnya, perlakuan santri kepada guru ngaji dan guru sekolah beda jauh, padahal yang diajarkan di kitab-kitab pesantren untuk menghormati guru itu tidak hanya menghormati guru ngaji saja. Ketika Sayyidina Ali dawuh rela menjadi budak kepada siapa saja yang ngajari ilmu kepadanya itu juga tidak terbatas pelajaran agama saja kan.

 

Saya bilang lagi ke teman-teman, santri ini, "guru ngaji memang wajib dihormati, karena ilmunya berkaitan dengan cara kita beribadah atau hablu minallah. Guru formal wajib dihormati karena ilmunya berkaitan dengan profesi kalian kelak, satu lagi perilaku berbeda seperti ini menunjukkan kalau kalian hanya menghormati siapa yang membawa ilmu bukan ilmu itu sendiri."

 

Fakta mencengangkannya lagi, biaya mondok alokasi untuk membayar sekolah formal itu justru lebih mahal daripada untuk mbayar ngaji yang tidak seberapa. Tapi lagi-lagi malah disepelekan gurunya. Hemm, jadi gimana cara kalian 'menyadarkan' santri seperti ini? Apa malah pernah menjadi pelaku? Heheu.

 

Sekian, wallahu a'lam bishawab.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp Facebook Twitter

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.