Loading...

Santri Gagal! Emang Ada?

Oleh Ahmad Elnahrowi | Meditasi | 16 Feb 2026

Cover Artikel

Ada salah seorang Alumnus (Alumni ndak sampai Lulus) merasa kalau dia adalah santri gagal, pernyataan itu sontak membuat saya kaget, standard apa yang dia pakai sehingga memvonis dirinya sebagai santri gagal?

 

Pernyataannya bisa kita anggap sebagai sikap Tawadhu', tapi di sisi lain beresiko menjadikan dirinya mengalami inferiority dan berujung tidak mau bersinggungan dengan dunia pesantren lagi, kemudian saya memberi sebuah wacana kepada dia.

 

Santri yang gagal: Banyak defiinisi untuk mengatakan santri itu gagal. Gagal sampai lulus, gagal sampai tamat Madin, gagal sampai khatam Qur'an, perlu diakui ini adalah santri gagal, namun itu takaran untuk gagal secara akademik. Gagal santri versi akademik ini, bukan berarti gagal secara hakikatnya.

 

Misal kayak kamu yang 'Gagal Akademik' (karena gasampe tamat Madin, ups) bukan berarti kamu gagal jadi santri seutuhnya. Kamu bisa sukses menjadi santri ketika prinsip-prinsip santri itu masih ada dalam dirimu meskipun sudah tidak di pondok. Prinsip santri itu apa saja? yap sesuai wadifah atau kebiasaan amalan di pesantrennya masing-masing.

 

Seandainya santri Al-Mahrusiyah, berarti meskipun akademiknya gagal, minimal njalanin Istigosah, masih tawasul dan ngirim doa ke kiai-kiai, masih membaca munjiyat, mau ngulang ngaji, menjauhi maksiat, menjauhi hal-hal yg dilarang agama. Bila kamu bisa ngelakuin satu saja di antara yang disebutkan di atas, kamu masih berjiwa santri dan tidak bisa dikatakan gagal, tapi kalau kamu bisa jalanin semua, berarti kamu benar-benar santri sukses.

 

Bahkan takaran untuk menyebut santri gagal itu ada yang lebih ekstream lagi, meskipun toh secara akademik sukses sebagai santri. Tamat Madin, hafal Qur'an, kitab tuntas, tapi ketika sudah boyong malah kelakuannya ndak jelas. Amalan di pondok tidak dijalankan, yang biasanya nderes jadi males, biasanya mempeng ngaji, malah rajin main PUBG, biasanya njalanin sunah, malah bubrah. Itulah santri gagal versi ekstream.

 

K.H Abdul Karim, pendiri Pondok Lirboyo, memberi takaran santri sukses cukup sederhana, meskipun sulit dilakukan, yaitu "Santri lek muleh ojo lali ngedep dampar." (Santri kalau pulang jangan lupa ngedep dampar (mengajar-pen)).

Kemudian oleh cucunya, yaitu K.H Habibullah Zaini, menafsiri, "Dampar itu bermacam-macam. Kalau yang punya pondok atau majelis ta’lim berarti dampar sungguhan, kalau yang tidak punya berarti dampar majazi." Alias mengajak kebaikan dimana pun berada.

 

Yang jelas, selama pernah nyantri, masih bernyawa, tidak bisa divonis santri gagal. Masih banyak kesempatan untuk berubah, bahkan yang dipondoknya baik-baik saja pun berpotensi bubrah, naudzubillah. Semoga kita tetap istiqomah dalam kebaikan.

 

Sekian, wallahu a'lam.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp Facebook Twitter

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.