Apabila mendengar nama besar Pondok Lirboyo, selain gudang ilmu dan kawah candradimuka tokoh Ulama Nusantara. Satu hal yang pasti yang saya ingat, yaitu kisah kemanusian menyentuh hati Nyai Salamah, Ibunda K.H. Abdul Karim.
Bayangkan saja gesss, kamu ingin memiliki pakaian mahal, kemudian nabung sampai 3 tahun baru bisa kebeli tuh pakain idaman. Setelah 2-3 kali dikenakan malah kamu berikan kepada tetangga. Yapss, perjuangan 3 tahun nabung, diberikan cuma-cuma ke orang lain yang lebih membutuhkan, logis ndak kira-kira? Agaknya di zaman sekarang hal demikian jarang ditemukan. Namun hal itulah yang dilakukan Nyai Salamah, Ibunda K.H. Abdul Karim.
Alkisah, setelah suaminya meninggal, Nyai Salamah menikah lagi. Namun suami kedua ini berbeda dengan suami pertama (Bapak Kandung Yai Abdul Karim). Suami kedua lebih money oriented dan menyuruh anaknya bekerja. Beda dengan suami pertama yang lebih well educated, karena menyuruh anak-anaknya fokus belajar.
Akhirnya, supaya anaknya tetap fokus belajar, Nyai Salamah bergegas cancut taliwanda, "Udah biar saya bekerja, supaya beban anak-anaku berkurang." Seolah dawuh demikian.
Nyai Salamah dagang kecil-kecilan di pasar untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dan mengurangi beban anaknya dari bekerja keras.
Berjalannya waktu, Nyai Salamah memiliki keinginan normal sebagaimana perempuan, yaitu memiliki kain batik tulis. Barang yang kepalang mahal di era penjajahan tahun 1850-an. Beliau lantas menyisihkan sebagian penghasilan dagang kecil-kecilan itu untuk ditabung.
Setelah tiga tahun melalui jatuh-bangun jualan di pasar, terkumpullah uang itu dan kebelilah kain batik tulis idaman. Namun, kebahagiaan punya pakaian baru itu berubah menjadi haru. Manakala pulang dari pasar, mendengar tetangganya menangis. Setelah ditanya alasannya cukup mengiris hati, tetangga itu berkata kepada Nyai Salamah, "Saya tadi malam melahirkan, saya hanya punya satu jarik (kain), apabila kainnya saya pakai, anak saya kedinginan, namun apabila kainnya dibuat nyelimuti anak saya, saya yang kedinginan." Tak pelak Nyai Salamah turut meneteskan air mata.
Beliau kepikiran dan kemudian pulang ke rumah, membuka-buka lemari baju, hanya ada satu kain yang pantas dipakai untuk orang. Yaps kain batik tulis idamannya, diberikanlah kain idaman itu kepada ibu tadi, "Ini buk, pakailah kain jarikku, jarik yang kamu pakai itu buat popok anakmu." Bilang Nyai Salamah. Sontak ibu itu nangis terharu karena sangat terbantu dengan kemurahan hati Nyai Salamah.
Lantas ibu itu spontan berkata, "Bu, semoga kamu di bahagikan Gusti Allah Ta'ala lewat anakmu, karena aku dalam keadaan susah karena anak, kamu bahagiakan dengan pemberianmu. Aku bahagia karena anak, semoga kamu bahagia karena anak-anakmu." Do'a ibu itu dengan tulus.
Dannn, kita sendiri menjadi saksi, betapa anak dari ibu Nyai Salamah itu kemudian membahagiakan ibunya, dengan mendirikan Pondok Lirboyo. Tentu satu hal lagi, sampai sekarang tidak ada keturunan Nyai Salamah yang kemudian kedinginan karena tidak memiliki selimut. Semua tercukupi kebutuhan hidupnya. Berkat tirakat sosial, melawan hawa nafsu, dengan meninggalkan kemewahan baju baru itu demi membantu kemanusiaan. Sekarang kita sendiri melihat hasilnya.
Nyai Salamah memanen apa yang tersurat dalam ayat,
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَۗ
"Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai."
Nyai Salamah juga mengamalkan "Catur Piwulang Sunan Drajat" salah satunya, "Wenehono sandang marang wong kang wudo" (Berilah pakaian pada orang telanjang/miskin).
Kemudian memperoleh barokahnya titah Sunan itu sampai sekarang.
Walhasil, kita belajar sejarah besar tidak melulu dari keputusan politik atau kecerdikan siasat, bisa berangkat pula dari hati yang sadar untuk berbagi. Nyai Salamah tidak pernah membayangkan bahwa jarik tercinta yang beliau berikan kepada tetangganya kelak menjadi bagian dari mata rantai lahirnya ulama besar dan berdirinya pesantren yang menerangi Nusantara.
Alumni Lirboyo saya kira sudah faham betul frasa "Tanpa Nasab Tinggi, Ilmupun Jadi". Istilah yang melekat pada K.H. Abdul Karim, karena keluarga beliau memang dari warga biasa, tidak memiliki nama besar, tanpa popularitas keilmuan benar-benar warga biasa. Namun kedermawanan ibunda Yai Abdul Karim dan tekad sang ibu luar biasa. Barangkali menjadi wasilah Allah mentakdirkan keturunanya menjadi tokoh yang tidak hanya membahagiakan ibunya, namun membahagiakan banyak ibu-ibu yang lain. Satu hal yang paling perlu diingat, disitulah pentingnya tirakat ibu.
Sekian wallohu'alam.