Loading...

Pernikahan, Rasisme dan Ketaqwaan

Oleh Ahmad Elnahrowi | Relaksasi | 20 Jan 2026

Cover Artikel

Namanya Julaib, dari segi harta, tahta apalagi rupa dia tidak punya, namun perihal taatnya pada agama dia jawara, atas modal agama itulah Rasulullah Saw. menjodohkan sahabat Julaib dengan putri pemimpin kaum Ansor yang teramat jelita, sholehah nan mempesona.

 

Tentu dengan modal dunia yang amat minor Julaib dilanda inferiority kompleks (minder nggak ketulungan). Namun diluar perkiraan, si gadis tadi menerima pinangan Rasulullah Saw yang mewakili Julaib.

 

 "Apakah ayah dan ibu ingin menolak permintaan Rasulullah Saw? Demi Allah kirim aku padanya. Jika Rasulullah Saw yang meminta maka pasti beliau tidak akan membawa kehancuran dan kerugian dunia akhirat untukku.” Jawab gadis sholehah, berbalik dengan gestur orang tua yang agak rasis nan sinis itu.

 

Dikisah lain, Rasulullah Saw menyuruh Bani Bayadhoh untuk menikahkan seorang perempuan dari mereka dengan Abu Hind tetapi mereka menolak, mereka berucap, "Bekas budak kami harus menikah dengan gadis kami?" kata mereka, sebuah kalimat yang bermuatan rasis.

 

Selain itu dimasa Nabi Saw juga banyak pernikahan yang 'jomplang' diluar ekspektasi dan kepantasan duniawi, sebut saja Bilal bin Rabbah bekas budak dari Afrika, dengan saudara perempuan Abdurrahman bin Auf, keturunan mulia suku Quraisy.

Lalu, Zaid bin Haritsah yang merupakan bekas budak dinikahkan dengan Zainab yang berasal dari keturunan bangsawan Quraisy. 

 

Pernikahan-pernikahan diatas menjadi bukti nyata dari Rasulullah Saw. bagaimana cara beliau membrantas rasisme dalam pernikahan dan fanatik keturunan serta menegaskan bahwa jodoh itu misteri tidak dapat diprediksi apalagi dihitung dengan kalkulasi duniawi. 

Lelampah Rasulullah Saw diatas juga mengamalkan wahyu yang diturunkan kepadanya di surat Al-Hujurat ayat 13. Selanjutnya menurut Ibnu Katsir dan beberapa ulama, surat itu menjadi penanda bahwa Kafaah (kesetaraan derajat) itu tidak disyaratkan dalam pernikahan, kecuali kesataraan agama belaka (derajat agama pun, manusia sulit menakarnya). 

 

Sayangnya, sekuat apapun dan sehebat apapun Rasulullah Saw memberi tauladan, umatnya memang sulit dikendalikan. Rasis tentang kasta memang sudah tiada, namun secara lebih mendetail lagi walaupun sudah se-iman, rasis itu bercabang lagi mengarah tentang pendapatan, pekerjaan, pendidikan bahkan asal dari "pondok pesantren mana" sekarang turut menjadi persyaratan sebelum mencapai posisi se-amin dalam pernikahan. 

 

Padahal sudah jelas-jelas banyak sekali riwayat yang menyatakan bahwa ukuran kemuliaan seseorang adalah taqwa, sedangkan taqwa itu sendiri hampir mustahil dilihat dengan telanjang mata dan bukan disandrakan dengan harta, tahta, 'lulusan mana' dan bahkan followersnya berapa.

 

Maka menjadi alarm bagi orang tua dimanapun berada jikalau memang buah hatinya sudah waktunya dan saling suka, maka jangan diperibet dengan takaran-takaran tethek bengek, materi maupun duniawi. Supaya Firman Li Ta'rofu itu tetap berjalan, bukankah ulama juga berpesan,

 من ادب بعد السلاف تعجل تزج البنات

"Sebagian adab dari ulama salaf adalah menyegerakan menikahkan anak perempuan", menyegerakan ini tentu akan dipermudah bila tidak mencari spek yang setinggi langit.

 

Bukannya wali songo sudah memberi contoh out of the box, bahwa pernikahan itu syaratnya tidak muluk-muluk nasabnya para wali yang teramat mulia itu rela menikah dengan putri pribumi, demi Islam tetap lestari dan bahkan menjadi negeri yang paling banyak menyembah kepada Illahi Robbi. Bisa dibayangkan kalau wali songo mempertimbangkan rasial, habib musti dengan syarifah, apakah Islam di Indonesia bisa seperti sekarang?

 

Teringat pula langkah hebat Mbah Yai Sholeh Banjarmelati menikahkan putrinya (Nyai Dlomroh) yang berusia belasan dengan santri sepuh (Yai Manab) berusia puluhan tahun diatas putrinya, selanjutnya Mbah Yai Manab dan Mbah Nyai Dlomroh melahirkan pondok pesantren berkualitas nan berkuantitas di kota Kediri, yang santrinya hampir ditemukan boro-boro dipelosok pedesaan, di FYP dan trending topic medsos pun hampir pasti ada, (salah satunya adalah penulis artikel ini🤭), tidak bisa dibayangkan kalau Yai Sholeh mempertimbangkan jarak usia calon menantunya, atau mempertimbangkan kaya dengan kaya.

Yai Sholeh mengabaikan itu, dengan bijak Yai Sholeh melihat Yai Manab just only dari kematangan agama, jadilah Lirboyo seperti sekarang. 

 

Sekian, Wallohua'lam.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp Facebook Twitter

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.